Sabtu, 20 Agustus 2011

Fiqih Bab III tentang Bersuci, Tharah

Thaharah artinya: hal bersuci atau hal kebersihan.
Arti disini: hal cara bagaimana menyucikan diri (badan, pakaian, dll) agar sah menjalankan ibadah.

Adapun Thaharah dalam ilmu Fiqih ialah:
1. Menghilangkan najis.
2. Berwudlu.
3. Mandi
4. Tayammum
Alat yang terpenting untuk bersuci ialah Air

A. Macam-macam air
air yang dapat dipergunakan untuk bersuci itu ada tujuh macam:
1. Air hujan
2. Air sungai
3. Air laut
4. Air dari mata air
5. Air sumur
6. Air salju
7. Air embun
ringkasnya ialah air bersih sewajarnya

B. Pembagian Air
air tersebut di atas dapat dibagi menjadi empat:

pertama: Air suci dan mensucikan, artinya dapat sah dipergunakan untuk bersuci dan tidak makruh.. Air yang semacam itu ialah air mutlak (mutlaq)

Air mutlak : Air yang sewajarnya, bukan air yang telah bersyarat (bercampur), air kelapa dan air kopi itu bukan air mutlak lagi, karena telah bersyarat, keduanya itu suci dan dapat diminum, tetapi tidak sah dipergunakan untuk bersuci seperti berwudlu atau mandi.

Kedua: Air suci tetapi tidak dapat dipergunakan untuk bersuci,
air yang semacam ini:

  • Air sedikit yang sudah bekas dipakai  (musta'mal) dari berwhudu atau mandi
  • Air yang bercampur dengan campuran air suci, umpamanya air teh, air kopi dsb.

Ketiga: Air yang suci dan dapat mensucikan, tetapi makruh memakainya, yaitu air yang terjemur sinar matahari (musyammas)

ke-empat: Air bernajis (muntannajis)
air yang bernajis itu ada dua macam:
a. Jika air itu sedikit, kemudian kemasukan najis, maka ia tidak sah dipakai untuk bersuci, dan ia tetap najis hukumnya: baik berubah sifatnya atau tidak.

b. Jika air itu banyak, (lebih dari 216 liter) maka apabila kemasukan najis yang terlalu sedikit yang tidak merubah sifatnya, maka hukumnya tetap suci dan dapat sah dipergunakan untuk bersuci, tetapi apabila berubah sifatnya (bau, rupa dan rasanya) maka tidak lagi dapat (tidak sah) dipergunakan untuk bersuci.

Air sedikit artinya kurang dari dua kulah dan kalau dihitung dengan liter kurang dari 216 liter. Air banyak ialah yang lebih dari 216 liter. Dua kulah sama dengan 216 liter. Jika berbentuk bak, maka besarnya sama dengan panjangnya, 60cm lebarnya 60 cm dan dalamnya 60cm.

C. Najis (kotoran)
yang dimaksud najis atau kotoran di sini ialah seumpama air kencing, darah, nanah, bangkai, bekas dijilat anjing, dan lain sebagainya. Semua najis itu harus kita bersihkan dari badan kita, pakaian kita, dan tempat kita.
Pembagiannya:

a. Najis ringan (mukhofafah): ialah air kencing bayi (anak kecil) laki-laki yang umumnya kurang dari dua tahun, dan belum makan selain air susu.

Cara membersihkannya: cuku dipercikkan air kebagian yang terkena najis sampai bersih

b. Najis berat (mugholadzoh): ialah najis dari bekas dijilat anjing atau babi.

Cara membersihkannya: lebih dulu dihilangkan wujud benda najis itu, kemudian dicuci dengan air bersih sebanyak tujuh kali, salah satunya dengan campuran tanah.

c. Najis biasa/sedang (mukhofafah): yaitu kotoran manusia atau binatang, air kencing, bangkai (selain bangkai ikan air, belalang dan mayat manusia), darah, nanah dan sebagainya selain yang tersebut dalam najis ringan dan najis berat.
Cara membersihkannya: cukup sekali dengan air sehingga hilang semua sifatnya. Tetapi apabila tidak mungkin hilang semua sifatnya (bau, rasa, dan rupanya) maka dimaafkanlah (tidak papa) adanya bekas najis itu.

Menurut wujudnya najis itu menjadi 2:
1. 'Ainy', artinya berwujud benda
2. 'Hukmi, artinya hanya hukumnya saja, sedang wjud bendanya tidak ada.

Macam-macam najis yang dimaafkan
ada beberapa macam najis yang dimaafkan. Diantaranya ialah

1. Bangkai binatang yang darahnya tidak mengalir, umpamanya: nyamuk, kutu dsb
2. Najis yang amat sedikit sekali
3. Nanah atau darah dari kudis (bisulnya) sendiri yang belum sembuh
4. Debu yang campur najis
5. Dan lain-lainya yg sangat sukar menghindarinya.

D. Cara dan Adab Bersuci
Tubuh kita dan pakaian senantiasa harus bersih, lebih-lebih ketika kita hendak mengerjakan sholat
maka dari itu sehabis buang air besar atau air kecil kita diwajibkan untuk bersuci.

Caranya:
1. Dibersihkan dengan air bersih
2. Jika tidak ada air, sedikitnya dengan tiga batu atau sesuatu yang kesat yang dapat menghilangkan najis.

yang terlebih baik, ialah apabila dibersihkan dengan kedua-duanya: dengan batu atau sebangsanya, kemudian air.

Hal-hal yang diperhatian dalam hal buang air, adalah:

1. Jangan di tempat yang dapat mengganggu orang lain, umpamanya di tempat lalu lintas, dibawah pohon yang berbuah, ditempat angin yang meniup ke arah orang, dan lain-lain.

2. Jangan berkata-kata kecuali apabila benar-benar terpaksa.

3. Jangan di tempat yang terbuka (hendaknya berdinding).

4. Apabila masuk ke tempat yang khusus untuk itu, hendaknya mendahulukan kaki kiri sambil berdoa.


artinya:“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan dan kotoran.”

5. Apabila keluar dari tempat itu (kamar mandi/wc) mendahulukan kaki kanan sambil berdo-a


artinya: "Aku mengharap ampun Engkau. Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan penyakit dari diriku dan menyehatkan."

6. Apabila terpaksa pada tempat terbuka (tidak berdinding) dan tidak pada tempat khusus untuk buang air, maka tidak boleh menghadap atau membelakangi kiblat.

Berwudhu>>next<<<

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar